Minggu, 30 Agustus 2020

SIARAN

Putu Setia @mpujayaprema

 

Masih menonton televisi? Kita memang butuh informasi dan hiburan. Tapi ada teman yang sampai lupa kapan terakhir dia menonton televisi. Soal informasi dan hiburan, kata dia, sudah cukup lewat handphone yang menemaninya ke mana-mana.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Obat Corona

Putu Setia | @mpujayaprema

Kasus positif Covid-19 terus bertambah. Sampai Jumat kemarin yang terpapar positif 149.408 orang dan yang meninggal 6.500 orang. Bagi yang optimistis dan suka bercanda, satu-satunya yang tak bertambah adalah jumlah provinsi yang terdampak. Dari dulu tetap 34 provinsi.

Selasa, 18 Agustus 2020

Hare Krishna, Parisada, dan Adat Bali

Mpu Jaya Prema

Om Swastyastu. Sahabat yang baik dan umat sedharma yang terkasih. Kita bertemu kembali dalam rubrik Dharma Tula. Seperti namanya dharmatula saya akan menjawab pertanyaan yang masuk. Tapi saya akan rangkum pertanyaan itu sehingga tak terlalu menyita waktu. Perlu saya ingatkan sekali lagi, pendapat saya ini bersifat pribadi, bukan mengatas-namakan lembaga atau juga mengatas namakan perguruan. Jadi terbuka kemungkinan kita berbeda pendapat. Saya tak ingin memonopoli kebenaran. Biarlah kebenaran datang dari segala arah, termasuk dari tempat yang tidak kita sukai. A no bhaadrah kratavo yantu visvato

Oke, ini pertanyaan itu. 

Bagaimana kelanjutan tentang polemik sampradaya Hare Krishna yang ditolak oleh masyarakat Bali. Apa sudah ada sikap Parisada tentang hal ini? Apa Hare Krishna perlu dibubarkan? Kenapa Parisada terkesan lamban?

Sabtu, 15 Agustus 2020

Nararya

Putu Setia | @mpujayaprema
Hari-hari ini bendera merah putih berkibar di berbagai pelosok, termasuk di gang sempit yang warganya mengisolasi diri dari amukan Covid-19. Slogan “Indonesia Maju” bergema di televisi menyambut 75 tahun proklamasi. Nasionalisme kita bangkit. Namun kita disibukkan dengan kata asing, “nararya”.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Kotak Kosong

Putu Setia | @mpujayaprema

Tong kosong nyaring bunyinya. Itu peribahasa lama, ketika para pujangga di masa lalu sulit mencari rujukan soal bunyi nyaring. Sekarang tak ada tong yang berbunyi nyaring, kosong mau pun berisi.

Kamis, 30 Juli 2020

Dalam Hindu, Krishna bukan Tuhan tapi Awatara

Mpu Jaya Prema

Om Swastyastu. Sahabat yang baik dan umat sedharma yang terkasih. Saya memperkenalkan rubrik baru, Dharma Tula, di blog ini. Rubrik ini berisi diskusi masalah-masalah agama atau minimal berisi tanya jawab antara saya dengan siapa saja yang mengikuti blog ini. Diskusi atau obrolan semacam itu disebut dharma tula. Jika dharma wacana sifatnya monoton atau satu jalur saja, maka dharma tula bisa interaktif atau saling bertanya jawab. Silakan bertanya atau mendebatnya dalam kolom komentar.

Krishna Bukan Tuhan dalam Ajaran Hindu

Om Swastyastu. Sahabat yang baik dan umat sedharma yang terkasih. Saya memperkenalkan rubrik baru, Dharma Tula, di channel YouTube “Manikgeni *Mpu Jaya Prema”. Rubrik ini berisi diskusi masalah-masalah agama atau minimal berisi tanya jawab antara saya dengan siapa saja yang mengikuti channel ini. Diskusi atau obrolan semacam itu disebut dharma tula. Jika dharma wacana sifatnya monoton atau satu jalur saja, maka dharma tula bisa interaktif atau saling bertanya jawab.

Jika di YouTube tersaji bentuk video dan audionya, maka di blog ini akan saya bagikan bentuk teksnya. Jika ada perbedaan sedikit, itu hanya bunga-bunga saja, bukan berbeda dalam substansinya.

Sabtu, 11 Juli 2020

Buron

Putu Setia | @mpujayaprema

Jika merujuk ke kamus Bahasa Indonesia, buron adalah orang yang sedang dikejar polisi. Ada pun di kamus bahasa-bahasa daerah, buron merujuk ke binatang. Yaitu binatang yang biasa diburu.

Sabtu, 04 Juli 2020

Marah

Putu Setia | @mpujayaprema

 Marah adalah sifat dasar manusia. Tapi mengumbar marah sangat bergantung pada situasi dan posisi seseorang. Konon seorang pendeta yang pemarah adalah jauh dari etika kependetaan seperti welas asih dan mengayomi. Begitu pula seorang pemimpin, menurut ajaran etika leluhur Nusantara, apakah itu dari Kekawin Ramayana, Sutasoma, dan banyak lagi yang teksnya masih berbahasa Jawa Kuno.