Sabtu, 02 Januari 2021

Bersyukur

Putu Setia | @mpujayaprema

Selamat tahun baru Romo Imam, sehat dan sejahtera selalu. Itu kalimat pertama yang saya ucapkan kepada sahabat yang lama tak saya kunjungi. Pandemi global dasyat ini merenggangkan jarak saya dengan Romo.

“Mana korannya? Saya ingin tahu berita malam tahun baru,” katanya. Saya kaget karena tidak membawa koran apa pun, kali ini. “Romo ketinggalan informasi. Persis mulai hari ini Koran Tempo tidak terbit lagi dalam edisi cetak. Koran Tempo hanya ada edisi digitalnya. Romo bisa membacanya di handphone, lebih praktis,” saya menjelaskan.

Kami duduk di teras, memandang bunga-bunga yang asri. “Perubahan terus terjadi, termasuk di dunia informasi. Kelebihan media digital membuat informasi cepat sampai dan Romo tak harus menunggu loper koran yang mungkin kena macet. Romo tinggal klik di hape dan informasi yang Romo dapatkan sama cepatnya dengan yang didapat keluarga Romo di Solo, Medan dan lainnya. Saya ajari cara berlangganannya.”

 “Perubahan memang dasyat, sama dasyatnya dengan pandemi yang tak jelas kapan berakhir,” kata Romo sambil menyodorkan gawainya. “Belum pernah ada pergantian tahun yang sesepi ini dari mercon dan kembang api, meski saya tak suka juga situasi itu, hanya bakar-bakar uang. Romo memaklumi banyak yang melanggar larangan pemerintah. Di beberapa kota pejabatnya juga rada bingung antara membiarkan ada keramaian tetapi melarang kerumunan. Malah beberapa obyek wisata ditutup mendadak.”

Romo saya biarkan bicara tanpa saya komentari. Saya mendaftarkan Romo berlangganan Koran Tempo Digital. “Setiap pergantian tahun kita selalu mengharap perubahan. Banyak orang bahkan bertekad akan mengubah cara hidupnya. Bumi dan planet memang berputar terus lalu kita menandainya dengan pergantian waktu, termasuk pergantian tahun. Padahal apa beda bumi, matahari, dan bulan pada hari kemarin dan esok? Tapi kita ingin berubah atau sesungguhnya merasa perlu berubah. Kalau memang ada perubahan yang lebih baik, ya, kita bersyukur. Tapi kalau biasa-biasa saja, ya, tetaplah bersyukur. Bahkan kalau lebih buruk apa salahnya tetap bersyukur karena kita masih bisa mengatasinya? Menerima kenyataan itu dengan tetap bersyukur lebih baik dari memaki keadaan.”



“Romo menyinggung soal pandemi corona?” Saya menyela. Romo cepat menanggapi: “Tak cuma soal pandemi, semua masalah yang dihadapi bangsa ini. Menteri yang masih korupsi bahkan yang dikorupnya bantuan sosial, itu kan keterlaluan. Soal hoaks, caci maki di media sosial, masalah keyakinan beragama yang masih ada dikotomi mayoritas minoritas, pembubaran Front Pembela Islam yang terlalu didramatisir, apa sih akar masalahnya? Bukannya soal ketidak-adilan dan hukum yang masih tebang pilih? Kalau akarnya tidak dibenahi, pohon itu akan dipenuhi ranting yang tak jelas, bisa-bisa benalu pun tumbuh di pohon. Habis energi kita mengurus hal ini berulang-ulang.”

Saya menimpali. “Lalu apa yang kita lakukan di tahun baru ini, Romo?” Romo minum sejenak. “Bertindaklah yang adil, kerja yang baik, jangan mengumbar harapan, intropeksi diri dan beri teladan. Selebihnya mari kita berusaha tetap bersyukur.”

Saya menyerahkan gawai Romo yang sudah menjadi pelanggan Tempo Digital. “Nanti Romo tinggal klik tombol ini. Dan saya janji akan lebih sering ketemu Romo meminta pendapat untuk bahan tulisan, dibandingkan saya menulis hal-hal yang sudah diketahui umum. Tahun baru ini harus ada inovasi baru dan Tempo tetap menyajikan jurnalisme yang berkualitas.”

Romo tersenyum. Saya langsung mohon pamit tanpa perlu mencium tangannya.

(Koran Tempo 2 Januari 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar