Sabtu, 05 Oktober 2019

Wajah Senayan

Putu Setia | @mpujayaprema

Gedung Dewan Perwakilan Rakyat serasa menjadi tempat hajatan pengantin. Orang datang dengan pakaian terbaiknya. Penyanyi Mulan Jameela mengenakan busana yang sulit saya terka modelnya. Saya bukan pengamat mode. Tadinya saya mengira orang yang datang ke Senayan itu berbusana apa yang selama ini disebut “busana nasional”, lazimnya kalau ada upacara kenegaraan. Yakni, lelaki memakai jas lengkap, yang perempuan memakai kain dengan atasan kebaya atau baju kurung disertai rambut yang diikat atau disanggul jika tidak berhijab.

Acara ini pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah yang keduanya jika digabung menjadi Majelis Permusyawaratan Rakyat. Mulan Jameela adalah satu dari 14 artis yang akan duduk di kursi DPR.

Ada 575 orang yang duduk di DPR mewakili 9 partai politik dan 136 anggota DPD mewakili 34 provinsi. Jumlahnya menjadi 711 orang dan itu yang disebut MPR. Mereka semua hadir saat mengucapkan sumpah jabatan. Keluarga mereka pun diajak serta. Politisi Nasdem dari Jawa Timur, Lola Fadil, bahkan membawa ketiga istrinya ke acara pelantikan itu. Maklum, ini acara penting, harus adil kepada ketiga istrinya. Ada pula yang membawa ayah dan ibunya. Ini yang membuat acara kenegaraan bak pesta pengantin.

Pelantikan selesai siang hari. Malamnya sidang paripurna MPR dengan agenda pelantikan pimpinan DPR. Dari 711 anggota MPR hanya 376 yang hadir. Jadi ada 335 anggota MPR membolos, termasuk ketua sementara Sabam Sirait –ini politisi PDI Perjuangan yang sejak era Pak Harto sudah menjadi langganan di Senayan. Sidang lalu dipimpin Hillary Brigitta Lasut, politisi paling muda.

Kenapa politisi Senayan itu sudah berani bolos sidang di hari pertama? Barangkali mengantar keluarganya jalan-jalan di Jakarta, ini bagi yang baru menjabat anggota parlemen atau senator. Mereka tak peduli acara sidang, toh hanya menonton pimpinan sidang mengetokkan palu. Alasan ini lumayan karena sidang paripurna, meski pun penting karena mengambil keputusan, tidak banyak perdebatan. Tinggal mengucapkan satu suara: setujuuu.... Dugaan lain, kebiasaan bolos sidang paripurna ini sudah menjadi tabiat politisi karena tak ada sanksi. Maklum setengah lebih anggota MPR sekarang ini adalah wajah lama alias petahana. Mereka sudah terbiasa tak hadir dalam sidang.

Penetapan pimpinan DPR mulus-mulus saja karena sudah punya pegangan yakni UU MD3 yang direvisi.  Pemimpin DPD yang harus dipilih dan yang memenangi adalah La Nyalla Mahmud Mattalitti, pengusaha dari Jawa Timur yang kontroversial, pernah tersangkut berbagai perkara. Padahal di kalangan senator itu ada orang-orang hebat, misalnya, Jimly Asshiddiqie atau mungkin Mangku Pastika, purnawirawan polisi bintang tiga mantan Gubernur Bali dua periode.

Yang sedikit repot memilih Ketua MPR. UU MD3 saat direvisi hanya menambahkan pasal bahwa semua partai yang masuk parlemen berhak punya satu pimpinan. Jadi ada 10 pimpinan MPR, 9 dari partai dan 1 dari DPD, meski tugasnya tak jelas. Siapa ketuanya tidak diatur, ini yang harus dipilih. Mungkin ketika UU MD3 direvisi, lupa mencantumkan satu pasal lagi, yakni: “Semua pimpinan MPR berstatus sebagai ketua, tidak ada wakil ketua.” Syukurlah tak sampai votting, Bambang Soesatyo dari Golkar menjadi Ketua MPR.

Begitulah hari-hari awal wajah MPR kita supaya kita tidak kagetan selama 5 tahun ke depan. Nasib 260 juta rakyat ini berada di tangan Mulan, Fadil, La Nyalla, Puan dan kawan-kawannya. Keberadaan mereka di Senayan karena kita yang memilihnya.

(Cari Angin Koran Tempo 5 Oktober 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar