Sabtu, 18 April 2020

Empati

Putu Setia | @mpujayaprema

Ternyata benar. Romo Imam, sahabat ngobrol saya, datang ke kampung. Ini hari ke 30 saya mengikuti program #dirumahsaja, sejak Presiden Joko Widodo mengimbau agar masyarakat melakukan phisical distancing. “Kalau di sini sih betah, rumah dengan halaman luas tidak membuat bosan,” kata Romo dengan senyum khasnya. Romo ingin di rumah saya barang seminggu.

Dia melepas jaketnya. “Kata petugas di jalan tadi, saya harus mandi dan ganti baju, padahal semua tubuh saya sudah disemprot,” katanya. Saya jelaskan, memang peraturan di desa ketat sekali. Setiap tamu yang masuk desa diusut apa tujuannya. Kalau diizinkan masuk semuanya disemprot. “Di kota orang masih berseliweran. Warung masih buka,” kata Romo lagi.

“Mereka keluar karena kebutuhan hidup, Romo. Tak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah. Apalagi mereka pegawai kecil, buruh serabutan, pedagang sayur keliling, tukang bubur. Kalau mereka tak keluar, berarti tidak bekerja, lalu makan apa?” Saya memancing Romo dengan kata-kata klise agar keluar tawanya.


https://youtu.be/cBBWgQ9u49U

Tetapi Romo malah serius. “Saya juga ragu dengan apa yang dilakukan di Jakarta dan daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang. Pembatasan sosial berskala besar, apa ya masyarakatnya tertib dengan kebijakan ini? Kalau pelanggaran terus terjadi, apakah aparat tetap bisa menertibkan setiap hari sesuai jadwal yang ditetapkan? Persoalannya tidak sederhana, mereka keluar karena kebutuhan hidupnya harus dipenuhi. Pemerintah memang memberi bantuan tunai, tapi apa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Bayar kost saja paling murah Rp 400 ribu. Kan mereka kebanyakan perantau yang memang tidak bisa mudik dan tidak boleh mudik.”

“Romo, saya membaca di media sosial ada pemilik kost yang menggratiskan uang kost selama pandemi corona ini,” saya menyela. “Nah itu bagus sekali,” Romo langsung bereaksi. “Empati seperti itu yang kita harapkan. Pemilik kost pasti perlu uang juga, tapi empatinya yang besar kepada sesama, menjadi sangat berharga di saat-saat wabah ini. Pandemi dasyat ini bukan sekadar berapa orang yang bertambah positif, berapa yang meninggal, seberapa sering cuci tangan. Tapi, kita harus menumbuhkan rasa empati seluruh masyarakat untuk bersama mengatasi petaka ini. Pandemi bisa berkurang tiga atau empat bulan lagi, namun dampak sosialnya bisa berbilang tahun. Kalau empati tidak dihidupkan dan terus dipupuk dari sekarang, masalah sosial akan menjadi petaka baru karena ekonomi yang terpuruk. Pemerintah tak sanggup mengatasi sendiri tanpa keterlibatan seluruh komponen bangsa.”

Wah, dalam hati saya bertanya, kok Romo Imam jadi lain sekarang. Inilah dasyatnya covid-19, bukan cuma bumi yang disembuhkan, juga mengubah kebiasaan Romo yang penuh guyon.

“Soal empati, ada muncul bibit-bibitnya,” saya ikut serius. “Romo tentu sudah membaca, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyumbangkan gajinya sampai berakhir masa jabatan pada Mei 2022 untuk wabah corona ini. Disusul Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran menyumbangkan gajinya selama 5 tahun menjabat beserta tunjangannya. Ditambah lagi Gubernur Kalimantan Utara, Irianto Lambrie, dan juga Wakil Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto.”

“Itu bagus, empati dimulai dari daerah. Bagaimana dengan pejabat di pusat? Jokowi memutuskan memotong tunjangan hari raya untuk eselon tertentu. Lumayan meski gajinya tetap utuh. Yang gajinya harus dipotong penuh, ya, staf khusus milenial yang menceriderai anak-anak muda itu.”

Romo tertawa dan saya jadi senang, ternyata beliau tak banyak berubah.

(Koran Tempo 18 April 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar