Minggu, 05 April 2020

Memahami Sarasamuscaya (Seri 1): Manusia Makhluk Utama

Sahabat yang baik dan umat sedharma yang terkasih. Saya ingin mengajak kita semua untuk membaca berulang-ulang kitab Sarasamuccaya, kitab warisan leluhur yang berisi himpunan tentang etika. Kitab yang disusun Bhagawan Wararuci di abad ke 9 ini berisi 511 sloka atau ayat yang semuanya berupa himpunan tentang etika. Kitab ini berbahasa Sansekerta namun oleh Bhagawan Wararuci diterjemahkan kedalam bahasa Jawa Kuno atau di Bali sering disebut Bahasa Kawi. Terjemahannya itu disertai dengan penafsiran Sang Bhagawan sehingga terasa ada yang diperpanjang.

 Sudah banyak orang melantunkan ayat-ayat ini termasuk yang menayangkannya di channel YouTube. Namun saya ingin membacanya secara sederhana saja, juga membahasnya dengan sederhana, apa adanya. Tentu dikaitkan dengan situasi terkini sehingga ada relevansinya untuk kita semua.

 Yuk kita ikuti bersama dan saya membahasnya urut sloka per sloka dengan hanya membaca versi bahasa Jawa Kunonya saja. Bisa beberapa sloka di setiap kesempatan. Kita santai saja.

 Dan ini adalah sloka pertama:

 Anaku kamung Janamejaya, salwirning warawah, Yawat Maka padarthang caturwarga, sawataranya, sako panyasanya, hana juga ya ngke, sangksepanya, ikang hana ngke, ya ika hana ing len sangkeriki, ikang tan hana ngke, tan hana ika ring len sang keriki.

 Anaknda Janamejaya, segala ajaran tentang Catur Warga baikpun sumber, maupun uraian tafsirnya ada di sini; segala yang terdapat di sini akan terdapat dalam sastra lain; yang tidak terdapat di sini juga tidak akan terdapat pada sastra lain.



Menjadi manusia hendaknya sejak awal mengusahakan dengan tidak pernah jemu untuk memahami hakekat tentang Catur Warga. Yakni menjalankan Dharma (kebajikan), mencari Artha (kekayaan), sumber kehidupan. Mendapatkan Kama (kesenangan) dan mengharapkan Moksa (kebebasan abadi).

Kebajikan/kebenaran, kekayaan, kesenangan, dan kebebasan itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam tujuan hidup sebagai manusia. Manusia adalah Sang Raja bagi dirinya sendiri, ia adalah pemimpin dari tubuhnya, ia adalah penguasa dari pikirannya. Maka dari itu, berusahalah untuk memahami hakekat penjelmaan sebagai manusia ini.

Nah ini adalah sloka awal dari kitab Sarasamuccaya.

Coba saya teruskan dengan sloka yang ke 2.

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawa yaken ikang subha subhakarma, kuneng panenta sakena ring subhakarma juga ikang asubhakarma phalaning dadi wwang.

 Manusia adalah satu-satunya mahluk yang dapat melakukan kebajikan, pun kejahatan. Terlahir menjadi manusia bertujuan untuk melebur perbuatan-perbuatan jahat ke dalam perbuatan-perbuatan bajik jahat yang masih tersisa dalam diri. Inilah hakekat menjadi manusia. Hanya dengan menjadi manusia kejahatan itu dapat dilebur dalam kebajikan.

Sahabat yang baik, bagaimana menjelaskan hal ini? Dalam ajaran Hindu Dharma, kita percaya adanya reinkarnasi atau disebut dalam kitab-kitab -- punarbawa – kelahiran yang berulang-ulang. Walau pun tujuan adalah moksa, yaitu pembebasan yang abadi dan menyatu dalam alam Tuhan, namun tak banyak orang sampai pada keadaan itu. Masih ada perbuatan kita yang harus diperbaiki dalam kehidupan selanjutnya, mungkin kita melakukan berbagai kejahatan atau dosa, entah disengaja atau tidak sehingga belum memenuhi syarat untuk sampai ke alam moksa. Nah kelahiran kembali sebagai manusia adalah cara terbaik untuk memperbaiki kesalahan atau kejahatan di kehidupan sebelumnya. Kalau kita lahir bukan sebagai manusia, tetapi sebagai makhluk lain yang disebut hewan, misalnya, maka kesempatan memperbaiki kesalahan itu sungguh sulit. Kita sulit mendapatkan kesempatan untuk melebur kejahatan itu dan mengubahnya menjadi kebajikan.

Mari saya bacakan sloka yang ketiga, supaya menyambung.

Matangnyan haywa juga wwang manastapa, an tan paribhawa, si dadi wwang ta pwa kagongakena ri ambek apayapan parama durlabha iking si janma manusa ngaranya, yad yapi candalayoni tuwi.

 Janganlah pernah bersedih hati dilahirkan menjadi manusia, meskipun pada kelahiran yang dianggap paling hina; karena sesungguhnya amat sulit untuk bisa menjelma menjadi manusia. Berbahagialah menjadi manusia.

Nah, pada sloka ke tiga ini jelas disebutkan, lahir menjadi manusia itu adalah suatu kebahagiaan. Dibandingkan lahir sebagai makluk lain, hewan misalnya. Karena seperti disebutkan pada sloka kedua tadi, hanya lahir sebagai manusia kita bisa memperbaiki kehidupan ini. Meski pun kelahiran itu hina. Kata hina di sini dimaksudkan sebagai memiliki banyak kekurangan. Misalnya lahir sebagai orang yang cacat, atau lahir di keluarga yang miskin. Hidup penuh kesulitan dan seterusnya. 

Jangan itu disesali. Hadapi semua itu dengan rasa penuh syukur, bahwa kita masih beruntung lahir sebagai manusia. Di masa-masa yang penuh kekurangan itulah kita tetap memperbaiki diri, dan anggap semua kekurangan itu adalah ujian dari Sang Pencipta. Jika kita lulus dalam ujian ini niscaya kita akan mengalami kehidupan yang lebih baik pada kelahiran selanjutnya, atau malah kita bisa menebus semua kesalahan dan kejahatan terdahulu sehingga moksa yang kita dapatkan. Hadapi hidup ini dengan tetap bersyukur.

Sahabat yang baik. Pada kesempatan pertama ini saya cukupkan untuk membacakan 3 sloka saja. Supaya mudah kita merenungi. Nanti kita lanjutkan pada kesempatan yang lain. Ikuti terus pembacaan kitab Sarasmuccaya yang saya lakukan di channel YouTube dan juga di blog ini. Sampai jumpa. Rahayu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar