Minggu, 19 April 2020

Memahami Sarasamuscaya (Seri 3): Berbuat Baik untuk Mendapat Moksha

Om Swastyastu. Sahabat yang baik. Umat sedharma yang terkasih. Sekarang di seri ke 3 ini, saya mulai membacakan sloka ke 8 Sarasamuccaya, kitab etika yang disusun Bagawan Wararuci, warisan leluhur kita di Jawa. Saya sampaikan lagi, sloka yang saya baca hanya yang berbahasa Jawa Kuno, bukan yang berbahasa Sansekerta.

Dan ini sloka yang ke 8.

 Iking tang janma wwang, ksanika swabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlabha towi, matangnyan pongakena ya ri kagawa yanning dharma sadhana, sakananging manasanang sangsara, swargaphala kunang.

Kelahiran sebagai manusia sangat pendek dan cepat, bagaikan pijaran cahaya petir, lagi pula kesempatan seperti ini sungguh sulit didapatkan. Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, lakukanlah perbuatan-perbuatan bajik atau yang benar, yang akan memutus lingkaran dan putaran kesengsaraan lahir dan mati, di mana kebebasan abadi itu bisa diperoleh.

Sahabat yang baik. Kembali diulang di sloka ini bahwa kesempatan lahir sebagai manusia amatlah sulit. Dan kelahiran ini patut disyukuri. Pada sloka ini ditekankan dua hal: kelahiran kita di dunia ini sesungguhnya sangat pendek. Selain pendek kehidupan itu juga misteri, kita tidak tahu secara pasti kapan akan meninggalkan dunia ini. Karenanya setiap kesempatan harus berbuat baik sehingga pada saat kita meninggalkan dunia ini justru perbuatan kita lebih banyak baiknya ketimbang buruknya.



Penekanan kedua dalam sloka ini adalah disebutnya tujuan akhir kehidupan manusia. Yakni memutus lingkaran putaran lahir dan mati, sehingga yang kita tuju adalah kebebasan abadi, yaitu moksha. Walau ajaran agama Hindu meyakini adanya reinkarnasi atau punarbawa atau kehidupan yang berulang, namun ssejatinya yang jadi tujuan utama itu adalah moksha, kebebasan abadi sehingga kita tak terjebak lagi dalam putaran lahir dan mati.

Mari saya lanjutkan dengan sloka ke 9. 

Hana pwa tumenung dadi wwang, wimukha ring harmasadhana, jenek ring arthakama arah, lobham beknya, ya ika kaban cana ngaranya.

 Mereka yang memanfaatkan kelahirannya hanya untuk mengejar kekayaan, kesenangan, nafsu-nafsu kotor dan rakus. Mereka yang tidak melakukan kebajikan di bumi, mereka inilah manusia yang tersesat dan pergi menjauh dari jalan kebenaran.

Saya lanjutkan dengan sloka yang ke 10

Ikang manggih si dadi wwang, prasiddha wenang ring dharmasadhana, tatan entas sangke sangsara, kabancana ta ngaranika.

Mereka yang telah melakukan kebajikan, pun kebenaran, namun masih terikat dalam proses lahir dan mati, mereka ini belumlah memperoleh inti sari dari kebebasan.

Nah kedua sloka ini, seloka 9 dan 10 saling berkaitan. Jika yang dikejar dalam kehidupan ini hanya kekayaan dan kesenangan belaka, ditambah lagi nafsu yang rakus, sama sekali tidak melakukan perbuatan yang bajik, ini sama artinya dengan manusia yang tersesat.

Namun jika pun dalam kehidupan ini kita sudah merasa melakukan kebajikan tetapi masih terikat dalam proses lahir dan mati, tak mampu mengendalikan diri, misalnya, maka belum secara sempurna memperoleh inti sari kebebasan yang disebut moksha itu.

Saya lanjutkan dengan sloka ke 11, karena dari sloka pertama sampai ke 11 ini temanya adalah Tujuan Hidup Sebagai Manusia. Begini sloka ke 11.

 Nihan mata kami mangke, menawai, manguwuh, mapitutur, ling mami, ikang artha, kama,alamaken dharma juga ngulaha, haywa palangpang lawan dharma mangkana ling mami, ndatan juga angrengo ri haturnyan eweh sang makolah dharmasadhana, apa kunang hetunya.

Lakukanlah pencarian kekayaan dan kesenangan hanya berlandaskan pada kebajikan atau jalan kebenaran, yang pasti akan mengantar ke surga. Hendaknya janganlah melakukan segala macam kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran. Manusia sering melalaikan hakekat kebajikan/kebenaran, sebab bagi mereka sungguh-sungguh sulit untuk dilakukan. Sedangkan kejahatan/ketidakbenaran bagi mereka sangat mudah dilakukan dan pastilah neraka pahalanya.

Nah di sloka penutup dari tema Tujuan Hidup Lahir Sebagai Manusia ini semacam disimpulkan bahwa jika kita mencari kekayaan dan kesenangan hanya berlandaskan kebajikan atau kebenaran, itulah jalan yang mengantar ke surga.  Sebaliknya yang terjadi, melakukan kejahatan dan perbuatan yang selalu tak benar di jalan dharma, maka neraka yang diperoleh di akherat.

Sahabat yang baik. Sampai ke sloka ke 11 ini kita telah diajarkan mahaetika yang seharusnya kita lakukan semampu-mampunya meski begitu banyak cobaan dalam hidup. Pada sloka-sloka selanjutnya kita akan menginjak kepada tema apa sebenarnya keagungan dharma atau hakekat kebenaran itu. Mari ikuti terus seri selanjutnya dan jangan lupa subcribe channel YouTube jika mengikuti uraian saya secara video visual. Rahayu, Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

Tidak ada komentar:

Posting Komentar