Senin, 04 Maret 2019

Wisata Bali Sangat Halal

Mpu Jaya Prema

APA yang dikatakan oleh calon wakil presiden Sandiaga Uno saat berkampanye di Bali bahwa Bali perlu mengembangkan wisata halal adalah ucapan politik. Karena ini omongan politik maka tanggapan pun berseliweran bernada politis. Semakin banyak yang menanggapi, tak peduli tanggapan itu berupa penolakan apalagi kalau ada yang mendukung, tentu sangat diharapkan oleh cawapres Prabowo ini. Bahkan tidak penting bagi Sandiaga Uno apakah tanggapan itu disertai dengan maki-maki, karena dalam dunia politik semuanya itu bisa digoreng untuk menaikkan elektabilitasnya. Politik kita menjelang pemilu 17 April ini memang lagi keruh, banyak yang membenci sebanyak itu pulalah yang memuji.

Karena itu, soal wisata halal di Bali ini mari kita tinjau dari sudut nonpolitik, supaya lebih adem dan jauh dari kebencian. Apa itu wisata halal? Halal itu adalah istilah agama tertentu dalam hal ini agama Islam. Agama lain, termasuk agama Hindu, tak mengenal halal dan haram. Inti yang diperoleh dari label halal itu adalah kemudahan bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah agamanya. Ada dua hal pokok di luar hal-hal kecil, yakni mudah mendapatkan makanan yang sesuai dengan ajaran Islam dan mudah mendapatkan tempat ibadah untuk menjalankan sholat.

Apakah wisata Bali tidak memberi kemudahan untuk dua hal pokok itu? Ternyata sudah memberikan kemudahan dan bahkan jauh lebih mudah dibandingkan di tempat lain. Hotel-hotel besar di Bali, baik yang berada di pusat-pusat wisata moderen mau pun di luar destinasi wisata, memberi petunjuk kilbat untuk melaksanakan ibadah sholat di kamar masing-masing. Di luar hotel, masjid sudah banyak ada di Bali. Program setiap kecamatan ada masjid besar sudah lama ada di Bali, belum lagi masjid-masjid di luar kota kecamatan. Mushola pun ada banyak yang disediakan di berbagai pusat belanjaan. Cobalah masuk ke mall yang menjual oleh-oleh khas Bali, dipastikan ada mushola untuk sholat umat Islam. Bahkan di SPBU pun sudah banyak ada mushola yang diletakkan berdekatan dengan toilet yang sekaligus sebagai tempat wudhu. Nah, kurang apa lagi?

Mencari makanan halal? Di hotel-hotel menu sudah jelas dengan label yang rinci, bahan apa yang dipakai untuk setiap makanan. Bahkan makanan berbahan daging babi, sesuatu yang haram bagi kaum muslim, sangat jarang ditemui di hotel. Di luar hotel, bertaburan restoran dan warung makanan dengan label “warung muslim”. Coba periksa di berbagai daerah di Indonesia, di mana ada warung yang berlabel “warung muslim” kecuali di Bali? Hampir di setiap sudut jalan ada “warung muslim” dan tak pernah ada orang Bali yang mempermasalahkan hal ini. Biasa-biasa saja. Apa yang kurang lagi?

Wisata Bali sudah sangat halal bahkan melebihi dari daerah lain yang mayoritas penduduknya muslim. Cuma saja label halal itu tidak dikenakan karena label itu tidak dikenal dalam istilah budaya Bali maupun dalam istilah agama Hindu. Sementara pariwisata Bali sudah ditetapkan sejak lama sebagai pariwisata budaya karena memang sejarah asal-usulnya adalah wisatawan tertarik dengan adat dan budaya Bali itu. Budaya Bali menyatu dengan alamnya dan tak bisa pula dipisahkan dari ritual agama Hindu sebagai agama mayoritas orang Bali.

Pada awalnya masyarakat Bali melakukan kegiatan budaya karena terkait dengan menjalankan ritual keagamaan. Kesenian Bali dihadirkan juga sebagai persembahan pada saat memuja Tuhan. Ritual-ritual keluarga dari Manusa Yadnya sampai Pitra Yadnya selalu dilaksanakan umat Hindu di Bali secara berkesinambungan. Ritual ngaben menjadi tontonan menarik wisatawan. Begitu pula ritual Dewa Yadnya, piodalan di pura, melasti ke laut menjadi acara yang diminati para turis. Padahal ada atau tidak ada turis yang melihatnya, ritual itu tetap saja berlangsung.

Inilah yang membuat wisatawan mengunjungi Bali, mendatangi pura untuk melihat ritual itu. Dan pura pun menjadi obyek wisata. Lihat saja pura besar seperti Pura Besakih, Uluwatu, Ulun Danu, Goa Lawah dan banyak lagi, menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi turis. Saking ramainya turis datang, lama-lama orang Bali pun mulai gelisah, kenapa bersembahyang kok ditonton. Lihatlah di Pura Besakih, turis berkerumun di depan angkul-angkul pura menonton orang sembahyang, bahkan kalau tak ada petugas bisa-bisa naik pagar hanya memotret orang Bali sembahyang. Apa sebenarnya keuntungan orang Bali bersembahyang ditonton turis itu? Tidak banyak ada kontribusinya, lebih banyak uang turis masuk ke kantor biro perjalanan.

Nah, kalau ini dikaitkan dengan label wisata halal, maka turis yang datang ke pura yang jadi obyek wisata itu harus dibuatkan mushola bahkan diminta ada masjid di sekitar pura. Ya tentu saja tak masuk akal. Siapa menyuruh datang melihat orang bersembahyang. Atau justru wisatawan itu yang seharusnya menyesuaikan diri kapan mau berkunjung ke pura. Kalau memang waktu kunjungannya bertabrakan dengan jadwal sholat, ya, harus dihindari. Dan orang Bali yang melaksanakan ritual keagamaannya yang kebetulan diminati turis tak bisa pula menyesuaikan dengan sholat wisatwan yang beragama Islam. Jadi, memang tak masuk akal Bali menerapkan wisata halal.

Penolakan label wisata halal di Bali ditanggapi sinis oleh politisi kelompok kubu Prabowo-Sandiaga. Ini lagi-lagi masalahnya politik, apa pun yang dikemukan kelompoknya harus didukung. Yang masalah mereka itu menyebutkan perbandingan yang keliru. Mereka mengatakan, kenapa Thailand, Jepang dan negara-negara Eropa yang penduduknya mayoritas non-muslim justru menerapkan wisata halal? Kenapa Bali menolak?

Ini betul-betul perbandingan bodoh atau istilah Rocky Gerung, sangat dungu. Thailand dan Jepang itu adalah negara, jadi perbandingannya haruslah Negara Indonesia. Kalau Indonesia punya kebijakan menerapkan wisata halal itu tak masalah, bisa dikembangkan di Lombok, Banyuwangi, Banten, Aceh, Bukittinggi dan seterusnya. Budaya setempat itu cocok karena mayoritas muslim dan tentu istilah halal tak jadi masalah. Kenapa harus Bali yang disasar? Bali itu pulau kecil, turis Timur Tengah kalau tak suka, ya, tak usah datang. Biarlah Bali dikunjungi oleh turis yang tak mempersoalkan label halal toh mereka bisa pandai-pandai memilih makanan yang sesuai dengan agamanya. Kembangkan wisata halal di Indonesia, tetapi bukan di Bali, yang budayanya kini terus mau dilestarikan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar