Minggu, 03 Mei 2020

Memahami Sarasmuscaya (Seri 5): Keagungan Dharma (lanjutan)

Om Swastyastu. Sahabat yang baik. Umat sedharma yang terkasih. Saya lanjutkan membaca dan memahami kitab Sarasamuscaya himpunan Bagawan Wararuci ini. Saya ingatkan berulang-ulang, ini kitab yang berisi 511 sloka tentang etika hidup sebagai manusia di bumi ini. Dan yang saya bacakan ini adalah versi bahasa Jawa Kuno, karena kitab ini memuat dua bahasa, yakni bahasa Jawa Kuno atau di Bali disebut bahasa Kawi dan bahasa Sansekerta. Pada seri ke 5 ini saya akan lanjutkan pembacaan mulai sloka 20, temanya masih tetap tentang Keagungan Dharma.

Ini sloka ke 20

Kunang parama arthannya kadyangganing wai mangena tebu, tan ikang tebu juga kanugrahan denika, milu tekaning trena latadi, saparek ikang tebumilu kanugrahan, mangkana tang wwang makaprawetting dharma artha kama, yasa kesambi denika.

Bagaikan tanaman tebu kala hujan, tidak hanya tebu itu saja yang memperoleh air, tanaman lain yang berada di dekat tebu itu pun mendapatkan manfaatnya. Baik itu rumput, tanaman menjalar dan sebagainya di sekitar tanaman tebu itu. Demikianlah orang yang tekun dalam kebajikan dan kebenaran, tentu akan mencapai juga kekayaan, kesenangan dan kemasyuran itu.

Di sloka ini ada rembesan yang secara alami akan terjadi. Jika kita telah melaksanakan jalan hidup dengan berdasarkan kebenaran, dharma, maka dengan sendirinya kita lebih mudah didekati oleh kekayaan, kesenangan dan kemasyuran itu. Karena nama baik pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan di dunia. Kita lanjut ke sloka 21.

Kunang ikang wwang gamawayikang subhakarma, janmanyang sangke ring swarga delaha, litu hayu maguna, sujanma, sugih, mawirya, phalaning subhakarma wasana tinemunya.


Mereka yang melakukan kebajikan dan kebenaran, setelah memperoleh surga, kelak apabila dilahirkan kembali ke bumi akan menjelma menjadi orang yang rupawan, berguna, mulia dan berkedudukan tinggi; itulah yang didapatnya sebagai pahala dari perbuatannya yang baik.

Sloka ini merujuk kepada hukum karma atau karmaphala. Baik yang diperbuat pada kehidupan yang lalu, mendapat surga pada kehidupan di alam lain, lalu ketika diharuskan dilahirkan kembali maka kebaikan yang diperolehnya dalam kehidupan yang baru. Menjadi orang yang tampan, dihormati di masyarakat karena punya kewibawaan yang lebih dan seterusnya. Karena itu jangan sia-siakan berbuat baik dalam setiap kehidupan. Saya teruskan ke sloka 22.

Lawan ta waneh, ring helet, ring alas, ring prigga, ring laya, salwirning dukha hetu, ri paprangan kuneng, tar teka juga ikang bhaya, rising dharmika, apanikang subhakarma rumaksa sira.

Mereka yang senantiasa melaksanakan kebajikan dan kebenaran, maka akan dilindungi dari berbagai macam bahaya. Walaupun ia berada di hutan, di jurang, di semak-semak, bahkan dalam kancah peperangan, di manapun juga tempat-tempat yang mendatangkan bahaya bagi kebanyakan orang, bagi mereka yang tekun dengan kebajikan dan kebenaran tidak akan ada tempat berbahaya yang dapat mencelakainya. Karena perbuatan baik itu yang melindunginya.

Sloka ini sudah sangat jelas. Perbuatan yang dilandaskan pada ajaran kebenaran akan menjadi tameng dalam setiap langkah kehidupan. Kita lanjut ke sloka 23.

Lawan ta waneh, ikang stri ratna anakebi rahayu, sangsangan ring sinandang, wruh ri sanginakana ring jalujalu, lawan umah rahayu, makadi prasadaprista, upalaksana ring bogopabhoya, mwang anarghya wastra bharanadi, dribya sang punyakari ika kabeh.

Mereka yang senantiasa melakukan kebajikan dan kebenaran akan memperoleh istri yang cantik dan utama, anak putri yang ayu dan anak putra yang tampan, mereka akan mendapatkan rumah mewah dengan perhiasan yang indah, kelimpahan sandang pangan dan juga harta kekayaan.

Sloka ini lebih pada simbol-simbol betapa kemewahan dan kesenangan akan diperoleh seseorang yang melakukan perbuatan yang bijak dalam kehidupannya di masa lalu yang dinikmati dalam kehidupan kekinian.

Lanjut ke sloka 24.

Apan ikang balakosa wahana tumekaken awaknya ya ri sang punyakarma, kadi kramaning manduka, an parakena awaknya ring sumur, mwang ikang manuk, an tekakena awaknya ring talaga.

Bagaikan katak yang datang sendiri kekubangan air, bagaikan burung yang akan selalu datang ke telaga, demikianlah harta kekayaan dan kesenangan itu akan datang sendiri menghampiri mereka yang teguh dengan kebajikan dan kebenaran.

Sloka ini juga sudah jelas dengan mempergunakan simbol-simbol alam untuk menguraikan jalan kebajikan itu. Saya lanjutkan ke sloka 25

Matangnya deyanika sang manget, apageh kadi tan keneng pati,  lwirniran pangarjana jnana, artha kunang yan pangarjana dharma, kadi katona rumanggut mastakarina, ta pwa ikang mretu denira, ahosana palaywana juga sira.

Orang yang telah sadar bahwa dalam usahanya mencari pengetahuan dan harta benda itu cukup punya waktu, namun dalam mengamalkan kebajikan dan kebenaran, hendaknya manusia selalu berpikir bahwa waktu itu sangatlah singkat, seolah-olah kematian akan datang esok hari.

Sloka ini mengajarkan kepada kita umat manusia, boleh saja santai dalam mencari pengetahuan dan kekayaan, seolah-olah waktu itu demikian panjangnya. Namun satu hal yang harus dipahami adalah kematian itu suatu hal yang misteri, tak bisa diprediksi kapan datangnya, bisa esok hari tak ada yang tahu. Nah karena itu, amalkan segala kebaikan dalam hidup ini seolah-olah waktu kita sangatlah singkat. Jangan sampai telat mengamalkan kebaikan. 

Nah karena kita sudah menginjak sloka-sloka yang menyebutkan kematian, mari kita jeda sejenak dan saya lanjutkan pada seri ke 6 nantinya. Ikuti terus pembacaan kitab Sarasamuscaya ini semoga ada manfaatnya. Rahayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar