Sabtu, 22 Juni 2019

Busana Persembahyangan ke Pura

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

PROGRAM  Nangun Sad Kerthi Loka Bali yang dikumandangkan Gubernur Bali Wayan Koster juga mencakup urusan berbusana. Bahkan sudah ada pergub yang mewajibkan umat Hindu di Bali mengenakan busana adat pada hari Kamis. Terutama untuk anak-anak didik di sekolah dan pegawai negeri dan swasta. Meski pun tak dirinci busana adat dengan peruntukannya, apakah untuk bekerja, untuk bergotong-royong atau malah untuk bersembahyang, umat umumnya tahu busana seperti apa yang dikenakannya.


Bagaimana kalau busana bersembahyang ke pura? Harus dijelaskan dulu, ke pura tentu berbeda dengan ke mandir atau ke kuil atau tempat persembahyangan umat Hindu lainnya. Karena ada budaya yang berbeda meski pun agamanya sama, Hindu. Masalahnya dalam ajaran Hindu tidak secara rinci diatur bagaimana pakaian kita dalam bersembahyang, semuanya diserahkan kepada budaya setempat.

Jadi berbusana dalam ajaran Hindu lebih dikaitkan dengan etika dan tata karma setempat. Etika itulah yang kemudian dicarikan rujukan dalam ajaran agama yang disesuaikan dengan budaya masing-masing.

Bersembahyang adalah menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena Hyang Widhi begitu suci, maka badan kasar dan pikiran kita juga harus suci, supaya nyambung. Maka pakailah pakaian yang bersih. Pikiran hanya tertuju kepada Hyang Widhi, maka perlu dikekang agar pikiran tidak mengembara ke mana-mana. Leluhur kita di Bali menciptakan simbol pengekangan itu berupa destar atau udeng untuk lelaki.

Destar pun dibagi antara destar untuk orang kebanyakan yang belum ekajati (masih walaka) dan destar yang dipakai ekajati (pemangku). Destar walaka terbuka di bagian atas, destar pemangku tertutup penuh sebagai pertanda bahwa pengekangan pikiran itu haruslah lebih sempurna. Kalau meningkat menjadi pemangku gede atau jero gede, rambut digelung ke belakang dan diikat genitri. Dan jika sudah menjadi sulinggih, gelungan berada di atas, juga diikat genitri. Artinya, dalam keseharian pun seorang sulinggih harus tetap suci, meski tidak menjalankan ritual yadnya.

Bagaimana yang perempuan? Rambut diikat berbentuk sanggul atau di Bali disebut mepusungan. Leluhur kita di Bali bahkan menciptakan budaya mepusungan yang berbeda antara dahasari (gadis), wanita dewasa dan untuk sulinggih istri.

Pengekangan pikiran ini bagian dari ajaran Trikaya Parisudha. Perkataan dikekang, simbolnya adalah kalung di leher. Sekarang banyak yang memakai kalung genitri. Bagaimana simbol mengekang perbuatan? Ada gelang di tangan. Ini bisa berfungsi sebagai perhiasan, tetapi bisa pula hanya sebatas simbol, misalnya, gelang benang. Apalagi benang tridatu (tiga warna). Sedangkan di pinggang melilit  anteng (disebut juga selempod).

Itulah simbol-simbol pengekangan pikiran, perkataan dan perbuatan dalam bentuk busana saat persembahyangan.


Perubahan terjadi seiring dengan pengaruh kebudayaan global. Jika dulu terbatas pada pakaian yang bersih, sekarang mulai ke masalah warna. Putih dan kuning dianggap simbol suci. Dulu, destar kebanyakan dari kain batik dan baju pun warna-warni. Hanya pemangku yang memakai destar putih. Sekarang anak kecil pun memakai destar putih. Begitu pula baju, banyak yang ke pura memakai baju putih. Modelnya pun safari.

Model safari ini pengaruh kebudayaan global dan fungsional. Kantongnya banyak untuk menaruh dompet, kunci mobil, handphone, dan sebagainya. Dulu tidak ada kebutuhan seperti itu. Akibatnya, anteng (selempod) ada di dalam baju safari. Ada beberapa orang masih fanatik  yang sampai sekarang kalaupun memakai baju safari tetap anteng di luar. Alasannya, mengekang prilaku itu tak bisa setengah-setengah.

Yang perlu dipersoalkan adalah bahan busana yang keblablasan mengikuti mode. Banyak ibu-ibu yang memakai kebaya tembus pandang alias memakai kain brokat, termasuk belahan dada yang lebar dan lengan kebaya hanya sampai siku. Busana para artis ini diadopsi oleh wanita Bali untuk pakaian persembahyangan. Uniknya, para ibu-ibu pedesaan pun ikutan “demam brokat” tanpa peduli bagaimana bentuk tubuhnya, bahkan tanpa peduli bagaimana kutang yang dipakainya.

Mari kita berpakaian dengan mematuhi etika dan tata krama. Kalau kita menghadiri resepsi perkawinan, upacara potong gigi, dan sebagainya, bolehlah berpakaian merangsang dan perhiasan mahal-mahal. Tetapi jika ke pura, untuk apa memamerkan bentuk tubuh dan emas berlian di hadapan Tuhan Yang Maha Kaya? Sembahyang itu bukan pamer busana. Konsep Sad Kerthi secara utuh perlu disosialisasikan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar