Sabtu, 15 Juni 2019

Dalang

Putu Setia | @mpujayaprema

Mencari tahu siapa yang menjadi dalang itu memang gampang-gampang susah. Tergantung apa peristiwanya dan bagaimana situasinya.

Saya membicarakan dalang yang sejati. Dalang yang dihormati dan di beberapa etnis kedudukannya setara ustad atau guru dan ulama, karena ilmunya. Namun faktor budaya menyebabkan dalang itu posisinya bisa beda. Dalang wayang kulit Jawa sangat mudah dikenali dan tak perlu ditelisik untuk tahu. Dia memamerkan dirinya saat memainkan wayang karena penonton umumnya berada di belakang dalang, sedikit yang melihat bayang-bayang wayang. Karena itu Ki Dalang berdandan yang baik, baju dan ikat kepalanya khas, bahkan ada keris di pinggangnya.

Dalang wayang golek bisa sedikit berkelit untuk tidak selamanya menjadi tontonan. Orang tahu siapa Ki Dalang itu. Ada pun Ki Dalang wayang kulit Bali, tersembunyi di sebuah panggung dibatasi kelir, yang tak sembarang orang bisa melihatnya. Penonton hanya melihat bayang-bayang karena itulah sesungguhnya wayang yang berarti bayangan. Siapa Ki Dalang itu harus dicari asal-usulnya, bertanya ke sana ke mari. Ki Dalang saat pentas memainkan wayang, bisa jadi hanya memakai sarung, bahkan celana kolor, tanpa baju. Maklum panas oleh api blancong (sumber cahaya pentas). Dia tak peduli dengan penampilan, siapa yang melihatnya kecuali penabuh gamelan?

Persamaannya, para dalang itu memainkan dengan sesuka hati para wayangnya. Mau bikin perang atau rusuh melulu, atau bikin goro-goro membanyol, terserah Ki Dalang. Para wayang tak bisa protes, wong mereka itu boneka.

Ada dalang lain yang tak memainkan wayang. Misalnya, dalang sendratari. Ini kesenian tergolong baru meski pun bukan baru amat. Sendratari itu akronim dari seni drama tari. Penari memainkan perannya di panggung dan bercerita seperti ada drama, namun tak boleh bersuara. Dia berbicara dengan bahasa tubuh bahkan bibirnya pura-pura menyanyi atau berdialog. Tapi suaranya dibawakan oleh Ki Dalang yang entah berada di mana, tetapi yang jelas berada di sekitar pentas. Ki Dalang tak bisa seenaknya bicara karena ada batasannya yakni gerak tari dan terutama iringan gamelan. Semua ucapan Ki Dalang harus sesuai alur yang telah ada. Siapa pembuat alur? Itulah peran sutradara. Posisinya paling atas, namun tak nampak di mata penonton, mungkin pula tak ada di sekitar pementasan. Sulit dilacak siapa dia.

Bahwa kini ada dalang lain yang dicari-cari, misalnya, dalang kerusuhan dan dalang rencana pembunuhan para pejabat, itu di luar pemahaman saya. Kalau mau dikaitkan silakan saja, karena dunia pentas dan dunia politik sejak dulu memang saling mengintip.

Apakah dalang kerusuhan dan pembunuhan itu sulit ditelusuri? Tentu, karena cara mereka menjadi dalang tak meniru dalang wayang kulit Jawa. Dalang kerusuhan terinspirasi dalang wayang kulit Bali, memainkan para wayangnya tanpa menunjukkan jadi diri. Aparat harus banyak mengusut orang, dari pesinden dan penabuh (ya, massa yang teriak-teriak dan lempar batu), namun pasti sulit karena mereka bisa jadi tidak tahu atau berdalih tak tahu siapa dalangnya.

Atau dalang kerusuhan itu ternyata hanya sejenis dalang sendratari, dia penggerak di lapangan dengan teks yang sudah ada. Skenarionya disusun orang lain, ada sutradaranya. Bisa satu atau dua atau lebih. Perlu waktu menelusurinya.

Karena itu biarkan polisi bekerja mencari dalang termasuk sutradaranya, jangan direcoki. Orang lain, apalagi yang tak melihat dan tahu “pentas” itu,  tak usah berlagak pinter dengan memberi komentar. Bikin bising saja.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 15 Juni 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar