Senin, 17 Juni 2019

Roh Baru PKB

Mpu Jaya Prema

PEKAN Kesenian Bali sudah dibuka. Ini PKB yang ke 41 dengan gubernur Bali yang baru, I Wayan Koster. Sebagaimana biasanya ada pejabat baru, maka berbagai istilah baru pun dimunculkan. Ini sesuatu yang wajar untuk mencitrakan ada gebrakan. Bahkan PKB pun akan ada nuansa baru yang dijanjikan. Kita sebaiknya menunggu apa saja yang terjadi selama sebulan pelaksanaan PKB ini.


Istilah baru yang sering sekali kita dengar selama ini adalah Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Hampir di setiap kesempatan, apakah itu membicarakan soal desa adat, bicara soal pembangunan, bicara soal sampah plastik, istilah Nangun Sat Kerthi Loka Bali pasti disebut-sebut oleh Gubernur Wayan Koster. Termasuk soal PKB ini. Dulu, gubernur sebelumnya Made Mangku Pastika juga melahirkan istilah Bali Mandara dan di setiap kesempatan istilah Bali Mandara juga disebut-sebut. Memang begitulah umumnya pemimpin kita, suka melahirkan istilah yang tidak selalu tepat jika dicarikan arti yang sebenarnya.

Apa roh baru di dalam PKB ini? Memang secara kasat mata sudah nampak ada perubahan, baik berupa kebijakan dalam pengelolaan PKB mau pun dalam konsepnya. Apakah perubahan itu baik atau biasa-biasa saja, waktu yang akan menjawabnya, setidaknya selama sebulan PKB ini.

Perubahan paling nyata adalah pada pawai PKB yang berlangsung Sabtu lalu. Lebih sederhana dan simple dari PKB sebelumnya. Waktu yang dihabiskan juga tidak begitu lama, barangkali menyesuaikan dengan cara kerja Presiden Jokowi yang memang tak suka berlama-lama dalam urusan seperti ini. Bahkan Jokowi pun tidak hadir pada pembukaan PKB di Taman Budaya malam harinya.


Pawai PKB waktunya lebih pendek dan acara pawai kontingen dari berbagai kabupaten/kota tergolong padat. Ini justru menarik karena fokus berbicara masalah kesenian. Tidak ada lagi atau setidaknya dikurangi hal-hal yang berbau ritual agama Hindu. Dulu sering kali pawai PKB ada sekelompok ibu-ibu mengusung gebogan, misalnya. Atau ada seni sakral yang tampil. Orang jadi bingung, terutama yang bukan beragama Hindu, ini pawai kesenian atau pawai keagamaan? Belum lagi muncul pertanyaan kenapa ritual agama Hindu justru dijadikan tontonan bukan lagi semata-mata persembahan kepada Tuhan? Nah, siapa pun yang punya konsep PKB kali ini, apakah itu Gubernur Wayan Koster atau Kepala Dinas Kebudayaan I Wayan “Kun” Adnyana, kita patut acungi jempol.

Banyak yang akan berubah di PKB ini. Hajatan setelah PKB berakhir, misalnya, tidak lagi ada apa yang disebut Bali Mandara Mahalango. Kegiatan yang dimaksudkan sebagai tambahan agar para seniman punya pentas lebih panjang ini akan dihilangkan. Padahal Bali Mandara Mahalango bisa berlangsung 48 hari lamanya, lebih panjang dari PKB itu sendiri. Memang isinya hanya pementasan seni, tidak ada lagi pameran seni mau pun “pasar malam” sebagaimana di saat PKB.

Kalau Bali Mandara Mahalango dihilangkan, apalagi Bali Mandara Nawanatya, sudah pasti akan dihilangkan pula. Bali Mandara Nawanatya ini adalah pentas akhir pekan yang memberi kesempatan kepada seniman kontemporer untuk unjuk kreasi. Karya-karya seni kontemporer dan seni inovatif dipanggungkan di acara ini setiap akhir pekan, Jumat dan Sabtu. Karena itu acara ini juga sering disebut Gelar Seni Akhir Pekan (GSAP).

Kalau kedua acara setelah PKB itu hilang, lalu di mana para seniman kontemporer dan seni inovatif akan mendapatkan panggung? Secara samar-samar Wayan Koster akan memberikan tempat pada akhir tahun, namun belum jelas pula bagaimana format acaranya.

Pembaruan format PKB akan membuat selama sebulan ini banyak pentas seni akan berebutan panggung. Lalu bagaimana menerapkan konsep awal PKB seperti yang dicanangkan penggagas PKB Prof. Ida Bagus Mantra bahwa tujuan PKB adalah melestarikan seni tradisi, meningkatkan mutu seni yang ada sehingga PKB menjadi ajang penampilan puncak-puncak seni tari, selain melahirkan karya inovatif baru yang sifatnya kontemporer? Pastilah akan ada yang tercecer. Selama ini yang paling tercecer dan hampir gagal adalah pelestarian seni tradisi itu sendiri. Lihatlah PKB yang lalu-lalu. Berapa kali seni tradisi yang mulai kehilangan pendukung itu coba dilestarikan, namun tak semuanya berhasil. Gambuh, wayang wong, janger, arja setiap tahun ada pembinaan namun tak pernah berhasil dilestarikan dalam arti kembali mendapat dukungan masyarakat. Bahkan topeng, wayang kulit  dan drama gong pun nyaris kehilangan nilai-nilai artistik tradisinya. Topeng yang masih laku sekarang ini adalah bondres alias lulucon, begitu pula drama gong. Bahkan wayang kulit yang setiap ada PKB selalu ada parade wayang kulit anak-anak, tetap saja tak menarik lagi buat masyarakat. Yang ada hanya wayang Cenkblong dan sekarang ini pun wayang Cenkblong sudah lari ke Channel YouTube untuk mengobral kelucuannya.

Namun tentu bukan salah pelaku kesenian itu. Yang salah adalah “angin modernisasi” yang melanda dunia ini termasuk Bali. Generasi milenial lebih suka segala bentuk seni yang bisa ditonton lewat hape atau tablet mereka. Dan kesenian yang ada di dunia maya itu luar biasa ragamnya, tinggal diklik sudah bisa ditonton sambil tiduran di rumah. Tidak dibutuhkan lagi pergi ke gedung pertunjukan. Ini pula yang bisa menjelaskan kenapa wayang Cenkblong kini lebih gencar melakukan pentas lelucon lewat YouTube. Penontonnya lebih besar.


Nah yang menarik dalam situasi seperti ini Gubernur Wayan Koster ingin menghidupkan kembali sekaa sebunan. Itu diucapkan dalam sambutan membuka PKB di Taman Budaya Sabtu malam hari. Menurut Koster, kesenian yang lahir dari sekaa sebunan ini akan dibina dalam kaitannya juga memberdayakan desa adat. Lagi-lagi dikaitkan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali era baru. Apakah mungkin sekaa sebunan akan bisa eksis di tengah masyarakat yang pola keterikatan sosialnya sudah berubah. Bukankah sudah lama konsep sanggar lebih disukai oleh masyarakat Bali saat ini?

Roh PKB yang baru akan kelihatan beberapa bulan lagi, apakah berhasil membawa kebaikan untuk kesenian di Bali atau harus terus diperbarui konsepnya. Bayu Premana sebagai tema PKB tahun ini akan menjawabnya, apakah angin yang berembus itu angin yang memberi kehidupan atau justru angin puting beliung yang merobohkan sendi-sendi seni tradisi. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar