Sabtu, 06 Juli 2019

Jangan Pertentangkan Tradisi dengan Weda

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

AGAR penerapan dharma sebagai kebenaran  Weda berjalan baik harus berdasarkan lima pertimbangan. Yakni, Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattva.  Itu disebut dalam kitab Dharmasastra Sloka VII. 10.


Iksa artinya paradigma atau kerangka berpikir seseorang. Sakti  artinya kemampuan seseorang. Desa artinya menyesuaikan dengan keadaan masyarakat setempat di mana nilai-nilai Weda itu diterapkan. Kala adalah waktu atau saat nilai Weda diterapkan. Tattva adalah yang paling prinsip, yakni tidak boleh bertentangan dengan kebenaran Weda itu sendiri.

Dari kelima pertimbangan  tersebut, empat (Iksa, Sakti, Desa, Kala) adalah sesuatu yang larut ke dalam tradisi, jadi terkena hukum perubahan. Sedangkan Tattva  merupakan substansi yang bersifat mutlak. Kala itu terus berubah-ubah, mengikuti perubahan zaman. Contoh kecil, di masa lalu seorang sulinggih hanya boleh dari kelompok wangsa tertentu berdasarkan keturunan, karena salah menafsirkan tatwa (Tattva). Sekarang tidak lagi karena sudah dikembalikan ke tatwa yang benar.

Banyak sekali contoh lain jika dikaitkan dengan ritual keagamaan yang berdasarkan tradisi. , Upacara Pitra Yadnya di pegunungan melarung abu jenazah cukup di sungai atau malah dipendam dalam tanah, sementara di dekat pantai abu jenazah dilarung di laut. Ini penyesuaian dari unsur Desa. Unsur Iksa, misalnya, ada yang menggunakan banten besar ada yang menggunakan banten kecil karena disesuaikan dengan kemampuan. Inilah kemudian melahirkan tradisi yang berbeda-beda.

Keberadaan Iksa, Sakti, Desa dan Kala juga berubah-ubah karena bergulirnya Catur Yuga, yakni: Kreta Yuga, Treta Yuga, Dvapara Yuga dan Kali Yuga. Kitab Manawa Dharmasatra I. 86 menjelaskan bagaimana penerapan nilai-nilai Weda dimodifikasi sedemikian rupa disesuaikan dengan tuntutan zaman atau Kala. Tapah param krta yuge, tretayam jnanam ucyate, dwapare yajnan ewahur, danam ekam kalau yuge.  Artinya: Pada zaman Kreta tapalah yang paling utama, di zaman Treta  pengetahuan yang diutamakan, zaman Dwapara pelaksanaan yajna yang difokuskan, kemudian di zaman Kali dana punia yang utama.


Saat ini kita berada pada zaman Kali. Kekawin Nitisastra menyebutkan bahwa orang yang  memiliki uang adalah yang paling bergengsi. “Yang yuganta Kali dateng tan hana mengelewihaning sang mahadana…” Bisa dipahami kenapa sekarang orang selalu berorientasi pada uang. Namun kalau dikaitkan dengan yuga,  uang yang diperoleh itu harus  di-dana punia-kan dengan tulus ikhlas untuk menolong mereka yang menderita.

Sementara itu Kitab Canakya Niti VIII 10 menyatakan: Agni hotram bina Weda, na ca danam bina kriyah, na bhavena bina siddhis, tasmad bhavo hi karanam. Artinya: Belajar Weda tanpa korban suci adalah sia-sia, korban suci  tanpa disertai dana punia tidaklah sempurna, tanpa disertai rasa bakti semua ini tidak akan berhasil, oleh karena itu hal yang paling penting adalah bhakti.

Dengan demikian tradisi beragama di saat ini seharusnya lebih ditekankan pada pelaksanaan dana punia, sehingga ritual bisa menyesuaikan sehingga ada dana yang tersisa untuk dipuniakan. Dana berbeda dengan dhana. Dana artinya memberikan sesuatu kepada orang lain yang berguna dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih. Punia artinya melakukan pengabdian sesama ciptaan Tuhan. Jadi dana punia berarti membantu dengan penuh keikhlasan untuk sesama manusia. Sedangkan kata dhana artinya uang.

Kekawin Nitisastra menjelaskan tentang dhana sebagai berikut, “Yan  yuganta Kali dateng tan hana mengelewihaning sang mahadhana…,” artinya, kalau zaman Kali datang tidak ada yang lebih utama dari orang yang punya uang. Tentu uang yang didapat di jalan dharma, bukan dengan mencuri atau korupsi. Setelah punya uang kaitkan dengan konteks zaman Kali dengan memotivasi umat untuk suka ber-danapunia dengan dhana/uang yang diperoleh itu. Tak perlu beryadnya dengan hura-hura. Apalagi menurut Bhagawadgita, yajna yang paling utama adalah ber-japa. Sedangkan arti berjapa menurut Sarasamuccaya 369 adalah: mapawaluy – waluyning kojaran sanghyang mantra japa ngarania (mengulang-ulang mengucapkan /merapalkan mantra berjapa namanya).

Dengan uraian ini maka tradisi tak semuanya bisa dipertentangkan dengan ajaran Hindu dalam Kitab Weda. Karena banyak unsur yang melahirkan tradisi itu yakni Iksa, Sakti, Desa, dan Kala. Ada pun tradisi yang menyimpang dari Tatva atau tatwa, itu yang harus diluruskan kembali. unsur. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar