Sabtu, 13 Juli 2019

Pura dengan Beragam yang Dipuja

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

ADA pembangunan pura yang cukup besar di luar Bali. Panitia pembangunan mengunggah rencana itu lengkap dengan desainnya. Lalu ada permintaan kepada umat Hindu untuk menyisihkan dana punia agar pembangunan pura itu berjalan lancar. Sambutan umat bagus. Namun ada umat dari Bali yang bertanya: Siapa yang distanakan (melinggih) di pura itu?


Panitia pembangunan pura tak bisa menjawab pertanyaan ini. Bagi mereka, membangun pura tentu untuk tempat bersembahyang ke hadapan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Tak mungkin membangun pura untuk restoran. Tapi yang bertanya terus mencecar. Dia ingin penjelasan siapa Ida Bethara yang melinggih di sana. Dia lantas menyebutkan contoh. Pura besar di Punduk Dawa, Klungkung, dibangun untuk menstanakan Ida Bethara Mpu Gana karena itu nama puranya ditambah embel-embel “Linggih Mpu Gana”. Pura di Silayukti untuk linggih Ida Bethara Mpu Kuturan. Panitia pembangunan pura di Jawa ini akhirnya menjawab dengan tegas: pura dibangun untuk memuja Tuhan. Siapa pun boleh memuja Tuhan di pura itu nantinya.

Memang umat Hindu tidak banyak yang memahami fungsi sebuah pura. Tidak semua pura untuk memuja Tuhan. Ada pura untuk memuja leluhur, yaitu orang-orang suci di masa lalu yang sudah moksa, yang di Bali sudah disebut Ida Bethara. Dengan pemahaman baik belakangan ini, memang pura yang tujuan utamanya memuja leluhur itu dilengkapi dengan pemujaan kepada Tuhan dengan menambah bangunan Padmasana. Konsep ini berdasarkan bahwa leluhur kita menyatu dengan Tuhan, bukan berada di sisinya sebagaimana di agama lain. Tetapi banyak pura tidak dipakai untuk memuja leluhur, pura itu hanya untuk memuja Tuhan saja. Pura itu dikenal dengan sebutan Pura Jagatnatha dan di luar Bali hampir semua pura adalah Pura Jagatnatha.

Bangunan Padmasana dengan segala tingkatannya ini adalah pura khusus memuja Tuhan. Pura seperti ini bisa disebut pura umum karena siapa pun bisa bersembahyang di sini tanpa dibedakan oleh status sosial dan keturunan. Yang berstana di sini adalah Tuhan, bukan Bethara atau Istadewata.

Pada sebagian umat memang memuja Tuhan dirasakan sebagai sesuatu yang sangat umum. Mereka membutuhkan hal yang lebih spesifik, misalnya, ingin memuja Tuhan hanya sebatas untuk memohon perlindungan, ingin memuja Tuhan sebatas untuk memuliakan ilmu pengetahuan. Memuja Tuhan yang menguasai kehidupan di samudra, memuja Tuhan untuk hasil pertanian yang bagus, dan seterusnya.


Semua itu dalam konsep Hindu terwadahi dengan adanya Dewa-dewa atau dalam istilah Weda disebut Istadewata. Dewa yang berasal dari kata div yang berarti sinar, adalah sinar sucinya Tuhan, sinar kekuatan sakti dari Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kita ibaratkan Tuhan sebagai matahari, maka sinar matahari yang beragam fungsi itu adalah para dewa. Kita mencari sinar ultra fiolet dengan cara berjemur mencari vitamin D, intinya tak lain adalah mencari matahari itu sendiri. Sinar itu timbul karena ada (kekuatan) matahari. Kalau matahari tak ada, sinar itu pun tak ada. Artinya, memuja dewa adalah juga memuja Tuhan, tetapi memuja Tuhan belum tentu fokus memuja dewa seperti yang kita inginkan di dalam permohonan.

Di Bali, Istadewata itu dikelompokkan untuk memudahkan umat menghayatinya. Misalnya ada Tri Murti, terdiri dari Dewa Brahma sebagai pencipta dan pura yang dibangun disebut Baleagung atau Pura Desa. Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan pura yang khusus untuk Beliau disebut Pura Puseh. Dewa Siwa sebagai pemralina – mengembalikan ke asal-usulnya – dan pura tempat memujanya disebut Pura Dalem. Di luar kelompok Trimurti ini masih banyak ada dewa, misalnya Dewa Baruna dan untuk itu dibangun Pura Segara. Di luar Bali mandir-mandir umat Hindu etnis India lebih spesifik lagi, ada memuja Durga, memuja Dewi Sri dan seterusnya.

Adapun pura yang dibangun untuk memuja leluhur, lokasinya ada di tempat di mana leluhur itu dulu menetap atau membuat “sejarah”. Misalnya, Pura Silayukti adalah tempat Mpu Kuturan dulu melakukan yoga semadi, Pura Lempuyang Madya adalah tempat Mpu Gni Jaya tinggal, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot dan sebagainya adalah tempat-tempat “bersejarah” yang diwariskan Danghyang Nirartha.

Demikianlah pura dikunjungi sebagai sarana untuk memuja Tuhan, tetapi di dalam cara memujaNya kita bisa lewat perantaraan leluhur atau Istadewata karena itu muara tujuannya sama. Maka jenis pura pun berbeda. Ada Pura Jagatnatha dan ada pura leluhur atau biasa disebut pura kawitan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar